SKMIGAS PRO NASIONAL DAN TIDAK PRO ASING

Mon, 26 November 2012 13:56 David Pratama

Home Berita

Jakarta – Satuan Kerja Sementara Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKMIGAS) akan terus melanjutkan kebijakan yang Pro Nasional sebagai jawaban terhadap berbagai tuduhan bahwa lembaga ini dinilai Pro Asing.

"Kami dengan bangga dapat menyampaikan bahwa penggunaan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) dapat  dipertahankan minimal 60%. Pengawasan terhadap pelaksanaan komitmen ini dilakukan melalui mekanisme persetujuan AFE. Tahun 2012 (s.d. September) dimana realisasi TKDN mencapai 61%. Hal ini menunjukkan komitmen kami yang Pro Nasional dan tidak Pro Asing," ujar Menteri ESDM selaku Kepala SKMIGAS Jero Wacik dalam Rapat Dengar Pendapat di Jakarta hari ini (26/11).

Sejak awal, perjalanan lembaga ini untuk menegakkan keberpihakan kepada nasional, tidak mudah. Banyak contoh kasus yang dapat saya sebutkan untuk menggambarkan tantangan yang muncul. Salah satunya, penegasan keberpihakan nasional dalam PTK-007 (tentang pengadaan barang dan jasa) yang diprotes keras oleh WTO, karena dianggap sangat berpihak kepada Vendor dalam negeri. Namun ini adalah perjuangan.

Sementara, untuk menegaskan keberpihakan pada nasional dalam proses pengadaan barang dan jasa, penggunaan TKDN digalakkan melalui partisipasi BUMN-BUMN penyedia barang dan jasa.  "Sejak tahun 2010 sampai dengan 2012, nilai pengadaan BUMN mencapai US$ 2,1 miliar dengan TKDN sebesar rata-rata 74,26%. Diharapkan partisipasi BUMN-BUMN tersebut dapat ditingkatkan pada masa mendatang sehingga penggunaan TKDN pun semakin tinggim," tegas Jero.

Sejak tahun 2009, BPMIGAS juga mulai mengharuskan Kontraktor KKS menggunakan Bank Umum Nasional dalam transaksi pengadaan yang dilakukan KKKS. Upaya ini juga tidak mudah karena sempat mendapat tantangan dari perbankan asing, baik yang disampaikan langsung oleh manajemen di kantor pusat mereka maupun melalui para duta besar. Namun kebijakan tetap dapat dilaksanakan, dan hasilnya sampai tahun 2012 (Agustus) nilai transaksi telah mencapai sekitar 20 Miliar US dollar, dimana yang terbesar adalah Bank Mandiri.

Keterlibatan perbankan nasional juga dapat ditingkatkan yaitu difungsikan untuk menyimpan Dana Abandonment and Site Restoration (ASR – Dana Pasca Tambang). Selama 3 tahun terakhir ini dana yang disimpan semakin meningkat. Sampai Kwartal ke-3 2012 saja besaran dana sudah mencapai 217 Juta US dollar.

"Kami berharap, upaya yang kami lakukan ini juga dapat meningkatkan dukungan perbankan umum nasional pada aktivitas industri hulu migas, sehingga kesempatan bagi pengusaha nasional untuk turut berkiprah di industri hulu migas juga meningkat." (DWI)

Top