SKK Migas dan KKKS Sepakati 248 Inisiatif Optimalisasi Biaya

Kantor Pusat Jakarta Berita KKKS

Sun, 19 December 2021 10:28 David Pratama

Home Berita


Jakarta – 14 Desember 2021. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) terus melakukan berbagai upaya efisiensi dalam pengelolaan operasional hulu migas. Langkah ini dalam rangka optimasi biaya untuk menjaga tingkat ekonomi dan meningkatkan nilai aset. Sampai saat ini, SKK Migas dan KKKS sudah berhasil mengidentifikasi 248 inisiatif optimalisasi biaya yang akan diterapkan di tahun 2022.

Identifikasi inisiatif optimalisasi biaya tersebut didapatkan setelah SKK Migas dan KKKS melakukan pembahasan secara intensif di kegiatan focus group discussion (FGD) minggu lalu (9-10/12), dengan tujuan pertama adalah untuk merealisasikan salah satu action plan yang terdapat pada Program Charter 1D - Competitive & Sustainable Cost Base (“PC-1D”) yang merujuk kepada pilar No.1 - Improving Existing Asset Value dari 10 pilar strategis rencana dan strategi (Renstra) SKK Migas Indonesia Oil and Gas (IOG) 4.0. Kedua, mengingat era “easy oil and gas” telah berlalu, inisiatif optimalisasi biaya perlu ditingkatkan dan diperluas.

Deputi Perencanaan SKK Migas Benny Lubiantara mengatakan, target 1 juta BOPD dan 12 BSCFD gas di tahun 2030 adalah masalah “deliverability” bukan “availability”. Sumber daya tersedia, namun untuk dapat memproduksikannya diperlukan tingkat keekonomian yang memadai. SKK Migas siap melakukan berbagai inisiatif yang agresif, tetapi tentunya butuh dukungan dari berbagai pihak – termasuk insentif.

“Insentif dibutuhkan karena kondisi dan tren kegiatan hulu migas nasional saat ini. Mayoritas lapangan migas sudah mature, aging facilities; sehingga era easy oil & gas telah berlalu. Optimalisasi biaya dapat mempertahankan tingkat keekonomian dan meningkatkan nilai aset. 248 inisiatif optimalisasi biaya adalah upaya SKK Migas dan KKKS untuk menjaga tingkat daya saing dan keekonomian industri hulu migas”, kata Benny.

Lebih lanjut, Benny mengemukakan tantangan optimalisasi biaya: persaingan investasi kapital makin meningkat, risiko financing meningkat. Tekanan untuk mengurangi emisi karbon, mengharuskan industri hulu migas harus melakukan adaptasi. Penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS)CCS dan CCUS menjadi keharusan yang berdampak pada peningkatan biaya. “Terhadap potensi biaya yang akan meningkat sehubungan dengan adaptasi lingkungan industri hulu migas, maka optimalisasi biaya sudah merupakan keharusan, bukan lagi pilihan”, tegas Benny.

Sementara itu Direktur Pengembangan dan Produksi Pertamina Hulu Energi (PHE) Taufik Aditiyawarmanmenyampaikan langkah-langkah yang telah dilakukan dalam penerapan efisiensi biaya yang disebut OPTIMUS (Optimization Upstream). Pertamina Hulu Energi memiliki delapan pilar: inovasi dan standardisasi, optimalisasi operasional, sinergy and borderless operation, organisasi yang lincah dan cepat beradaptasi terhadap perubahan, optimalisasi rantai suplai, perubahan filosofi bekerja, dan akurasi anggaran.

“Implementasi program efisiensi di PHE di tahun 2021 sudah melampaui target. Kegiatan optimalisasi, awalnya ditargetkan memberikan efisiensi anggaran biaya operasi 2021 sebesar US$310 juta. Hingga Oktober 2021 program OPTIMUS telah membukukan efisiensi US$532 juta yang dihasilkan oleh semua unit bisnis yang berada di bawah naungan PHE”, ujar Taufik.

Untuk dapat mengimplementasikan program efisiensi biaya, Ronald Gunawan board of director IPA mengatakan dalam pelaksanaan kegiatan optimalisasi biaya memerlukan perubahan budaya, skill, dan sistem. “Pada dasarnya semua operator ingin efisien dan ingin bisnisnya berkelanjutan. Terkait upaya meningkatkan keekonomian, hendaknya tidak lagi dalam tataran wacana “apa” tetapi “ini yang akan dilakukan”, tegas Ronald.

Inisiatif optimalisasi biaya digali dari berbagai aspek: perencanaan, operasi, dan supply chain. Dalam pelaksanaannya akan diterapkan pada berbagai kegiatan yang berpotensi memberikan efisiensi dan sinergi antar KKKS. Optimalisasi biaya dimulai saat dilakukan perencanaan antara lain dengan melakukan simplifikasi desain (fit for purpose), penerapan teknologi yang lebih cost effective, serta penggunaan kembali (refurbish) material bekas pakai. Penerapannya pada aspek operasi dilakukan dengan optimalisasi jadwal planned maintenance dan optimalisasi jadwal pengeboran. Kemudian penerapan pada aspek supply chain dilakukan antara lain pengadaan bersama antar KKKS serta pemakaianfasilitas bersama.

Dalam pelaksanaannya nanti, inisiatif optimalisai biaya yang telah diidentifikasi oleh SKK Migas dan KKKS tentunya akan menghadapi berbagai tantangan terutama terkait perbedaan spesifikasi dan sikronisasi jadwal operasi yang terkait langsung dengan target produksi. “Setiap langkah yang dilakukan tentu akan ada tantangan dan potensi risiko, namun ini tidak menghalangi SKK Migas dan KKKS untuk menerapkan inisiatif optimalisasi biaya yang sudah diidentifikasi. Melalui sinergi yang erat, termasuk komunikasi yang intens dengan pemangku kepentingan lainnya, diharapkan tantangan yang ada dapat diperoleh solusinya”, pungkas Benny.

TENTANG SKK MIGAS

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) adalah institusi yang dibentuk oleh pemerintah Republik Indonesia melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 9 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pengelolaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi. SKK Migas bertugas melaksanakan pengelolaan kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi berdasarkan Kontrak Kerja Sama. Pembentukan lembaga ini dimaksudkan supaya pengambilan sumber daya alam minyak dan gas bumi milik negara dapat memberikan manfaat dan penerimaan yang maksimal bagi negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Top