Produksi minyak bumi di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara mencapai 30 persen dari total produksi migas nasional yang sekitar 800 ribu barel minyak per hari.

“Peran wilayah ini cukup signifikan dalam kestabilan produksi minyak nasional,” kata Kepala Perwakilan SKK Migas Wilayah Jabanusa, Ali Masyhar saat Rapat Berkala Kehumasan SKK Migas-KKKS Jabanusa 2017 di Yogyakarta, Rabu (2/8).

Salah satu kontraktor kontrak kerja sama dengan produksi terbesar di wilayah ini adalah Exxon Mobil Cepu Ltd (EMCL). Per Juli 2017, rata-rata produksinya lebih dari 199 ribu barel per hari. Di wilayah ini juga baru beroperasi lapangan BD dengan operator HCML yang berlokasi di perairan Sampang dengan produksi sebesar 6.600 barel per hari dan 110 juta standar kaki kubik gas bumi per hari.

Di sisi lain, dia menjelaskan, tantangan kegiatan hulu migas di wilayah ini yang tidak mudah. Misalnya, rencana pengeboran pengembangan Lapindo Brantas yang belum berjalan dikarenakan kondisi non teknis. “Membangun sinergitas bersama semua pemangku kepentingan menjadi kunci untuk kelancaran operasional industri hulu migas,” kata Ali.

Sosialisasi kondisi industri hulu migas ke pemangku kepentingan, kata dia,menjadi penting agar meningkatkan pemahaman, yang tujuannya akhirnya adalah dukungan penuh dari para pemangku kepentingan tersebut.

Dia menjelaskan, lapangan yang berproduksi di Indonesia, sebagian besar lapangan tua yang secara alamiah menurun produksinya. Sedangkan saat ini belum ditemukan cadangan migas yang besar, sehingga kegiatan eksplorasi yang masif atau pencarian cadangan migas baru mutlak harus dilakukan.

Tingginya tingkat resiko eksplorasi dari segi biaya, ketidakpastian dan lamanya waktu menyebabkan kegiatan ini belum terlihat ada peningkatan yang signifikan. Merosotnya harga minyak dunia berpengaruh terhadap menurunnya iklim investasi karena selisih biaya operasi dan harga jual minyak mentah tipis atau bahkan impas. Selain dipengaruhi faktor harga minyak dunia, kondisi ini disebabkan, aspek finansial investor serta aspek non teknis, seperti penyiapan lahan, permasalahan sosial serta regulasi pusat dan daerah. “Perlu ada dorongan dari seluruh pihak agar investasi migas kembali membaik,” kata Ali.

Rapat Berkala Kehumasan SKK Migas – KKKS Jabanusa 2017 berlangsung selama dua hari, 1-2 Agustus 2017. Kegiatan dihadiri kepala daerah dan perwakilannya di tingkat provinsi dan kabupaten wilayah Jabanusa. Hadir sebagai narasumber antara lain Wakil Ketua Komisi VII, DPR, Satya Widya Yudha, Kepala Divisi Teknologi dan Pengembangan Lapangan SKK Migas, Benny Lubiantara, Direktur Eksekutif Asosiasi Perminyakan Indonesia (IPA), Marjolijn Wajong, Pendiri Reforminer Institute, Pri Agung Rahmanto, dan Kepala Pelayanan Perizinan Terpadu Provinsi Jawa Timur, Ahmad Basofi. (acu)